Senin, 25 Juni 2012

Sumber-sumber Pendidikan Islam

Pendahuluan
Teori pengasuhan dan  pendidikan modern berkembang sangat pesat di negara-negara  barat. Ilmu pendidikan hasil temuan manusia bersifat relatif karena pendidikan manusia itu tergantung kepada sistemnya. Produk karakter manusia seperti apa yang akan dihasilkan tergantung kepada sistem dan lingkungan yang membentuknya, lebih fundamental tergantung pada “AQIDAH”nya. Jadi ilmu pendidikan dan psikologi yang dihasilkan tentu akan tergantung bagaimana sistem dan nilai-nilai yang dianut oleh sistem atau teori tersebut. Dengan kata lain kita tidak bisa mengadopsi begitu saja teori pendidikan dan psikologi dari barat.
Kasarannya, duduk-duduk bersama ahlu bid’ah saja kita tidak boleh, karena dikhawatirkan kita terkena syubhatnya. Nah, bagaimana pula jika kita banyak berdekatan dan mengadopsi orang2 tak beraqidah islam secara lurus bahkan dengan ringan hati kita mengadopsi teori-teorinya.
Teori yang dijamin benar didalam pendidikan dan psikologi adalah yang bersumber pada Alqur’an dan Hadits, sehingga sebagai umat Islam dalam masalah pendidikan dan psikologi ini kita harus merujuk  kepada dua sumber tersebut.
Teori pendidikan dan psikologi modern merupakan hasil usaha  manusia yang “katanya” bersifat ilmiah berdasarkan temuan, eksperimen serta  pengalaman empiris yang didasari nilai-nilai manusia yang dianut pada suatu saat dan suatu tempat. Tentu saja sifatnya tidak absolut karena sistem yang membentuknya bersifat relatif  sehingga bisa saja teori ini berubah dalam perjalanannya. Apa yang dianggap baik dan benar pada suatu waktu dan suatu tempat belum tentu benar di waktu dan tempat yang lain.
Tapi bukan berarti kita tidak boleh sama sekali menengok teori atau metode pendidikan dan pembelajaran yang berkembang pesat dalam psikologi modern, oleh karena mengabaikan sama sekali temuan-temuan ilmiah (baca: yang ilmiah syar’an) membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengoptimalkan tugas kita sebagai pendidik. Tidak sedikit  temuan-temuan ilmiah lebih memudahkan kita menjalankan dalil-dalil wahyu (Quran dan Hadits). Kadang dalil wahyu  memberi  panduan yang bersifat prinsip dan umum sehingga pengetahuan kita tentang metode2 baru yang belum tersentuh oleh kita sebelumnya dapat memudahkan kita menerapkannya pada tingkat teknis dan operasional..
Pada saat ini di mana arus informasi tidak dapat (“sulit”) dibendung dan nyaris merambah tanpa batas maka kita tidak bisa sepenuhnya terisolasi dari  pengaruh perkembangan teknologi dan informasi. Sehingga ada hal-hal yang bersifat global yang harus kita amati aspek pengaruh perkembangannya  dalam dunia pendidikan.
Tapi apakah semua teori dan temuan ilmiah harus kita ikuti ? Atau menunggu sampai teori modern itu terbukti kesalahannya sekian tahun mendatang ? Yang kita perlukan adalah menguji apakah teori itu sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, jadi penakarnya adalah dua sumber tersebut, karena Quran dan Hadist pasti benar dan telah teruji dalam rentang sejarah yang panjang.
Berikut sedikit kami kutip tulisan dari karya Al Magribi bin Sa’id Al Maghribi, dalam buku Begini Seharusnya Mendidik Anak, Darul Haq:
1. Manhaj Islam dalam Pendidikan Anak:
Manhaj islam dalam pendidikan anak sudah sangat sempurna dan komprehensif karena bersumber dari manhaj Ilahi bukan manhaj yang bersumber pada gagasan dan hasil pemikiran manusia, yang sangat beragam pendapat, teori, gagasan, kecondongan, dan pemikiran. Maka sudah pasti, manhaj yang berasal dari gagasan dan pemikiran manusia bisa jadi penuh dengan kekurangan dan cacat karena beberapa sebab:
·         Pemikiran manusia hanya mengandalkan kemampuan otak dan pandangan belaka yang terkadang tepat kadang meleset serta memiliki daya jangkau yang terbatas sesuai dengan kondisi dan daerah, dan keyakinan, boleh jadi dianggap baik boleh jadi dianggap tidak baik. Adapun manhaj islam dalam pendidikan menyiapkan standar yang selalu benar, cocok (relevan) sesuai dengan kondisi, tempat, dan umat manapun, sepanjang zaman.
·         Manhaj islam adalah konsep yang sempurna yang mencakup seluruh kebaikan yang dibutuhkan oleh manusia dalam urusan dunia, agama dan akhirat, sejak lahir hingga kembali kepada Alloh.
·         Manhaj islam juga memperhatikan soal kejiwaan manusia dari berbagai segi dalam segala kondisi, interaksi, dan menunaikan kewajiban dan tugas hidup.
·         Manhaj islam sesuai dengan fitrah manusia bahkan membimbing dan mewujudkan keseimbangan antara potensi badan, akal dan ruh, sehingga bekerja sama secaraq baik, berbeda dengan manhaj jahiliyyah yang hanya mengandalkan potensi badan dan akal belaka.
Sangatlah layak bila kita selalu meniti dan berpegang teguh dengan manhaj islam dalam mendidik anak-anak kita. Namun umat sekarang banyak yang menyelisihi manhaj yang lurus dan mengambil manhaj kaum kuffar seperti George, Michael, Freud, dan Jackson. Kaum muslimin banyak yang menjadikan tokoh-tokoh tersebut sebagai idola sehingga mereka menjauh dari pendidik yang mulia dan pengajar terbaik serta memberi peringatan dan penunjuk kepada jalan yang lurus yaitu Rosululloh, Muhammad bin Abdulloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.
            Pendidikan islam sangat memperhatikan penataan individual dan sosial yang membawa penganut nya pada pemelukan dan pengaplikasian islam secara komprehensif.Allah berfirman dalam kitab nya
يآيها الذين ءامنوا ادخلوا في سلم كافة
Artinya : wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam agama islam secara menyeluruh
Tarbiyah atau pendidikan yang benar dibangun di atas dasar dan landasan yang jelas, maka siapa yang ingin berhasil dalam mendidik anaknya hendaknya mengikuti dan meniti di atas dasar dan landasan tersebut.
Dasar dan landasan pendidikan tersebut diambil dari sumber yang lurus dan benar yang bertujuan untuk membentuk kepribadian generasi islam dan berusaha untuk menyelamatkan umat islam dari keterhinaan dan kemunduran. Kondisi umat yang mundur tersebut menjadikan mereka mengekor kepada umat lain, sementara sebelumnya Islam adalah adalah suatu umat yang menjadi pemimpin dan pengendali dunia.
Tidak ada jalan lain untuk mengubah dan mengembalikan kejayaan umat kecuali dengan 2 langkah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al Allamah Muhammad Nashirudin al Albani, pertama “tashfiyah” yaitu pemurnian agama umat dari berbagai macam pengaruh kotoran syirik, bid’ah, khurofat. Dan yang kedua adalah “tarbiyah” yaitu membina umat di atas manhaj dan aqidah islam yang benar.
Agar pengikutnya mampu  memikul amanat yang dikehendaki Allah,pendidikan islam harus kita maknai secara rinci. Karena itu,keberadaan referensi atau sumber pendidikan islam harus merupakan sumber utama islam itu sendiri yaitu Al Quran dan As Sunnah.
Sumber-sumber pendidikan Islam
 Pertama : Al Quran
1. Definisi Al Quran
            Allah azza wa jalla memilih beberapa nama bagi wahyu-Nya,yang berbeda sekali dari bahasa yang biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu.Nama-nama itu menganduung makna yang berbias dan memiliki akar kata [1].Diantara beberapa nama itu yang paling terkenal ialah al kitab dan al quran.
            Wahyu yang dinamakan al kitab yang menunujukkan pengertian bahwa wahyu itu dirangkum dalam bentuk tulisan yang merupakan kumpulan huruf-huruf dam menggambarkan ucapan(lafadz) adapun penaman wahyu itu dengan Al Quran memberikan pengertian bahwa wahyu itu tersimpan didalam dada manusia mengingat nama Al Quran endiri berasal dari kata Qira’ah(bacaan) dan didalam qiraah terkandung makna: agar selalu diingat.Wahyu yang diturunkan dalam bahasa arab yang jelas tiu telah ditulis dengan sangat hati-hati agr terpelihara secara ketat,serta untuk mencegah kemungkinan terjadinya manipulasi oleh orang-orang yang hendak mengubahnya. Tidak seperti kitab suci lain dimana wahyu yang terhimpun dalam bentuk tulisan saja atau dalam hafalan saja,tetapi penulisan wahyu yang satu ini didasarkan pada isnad yang mutawattir( sumber-sumber yang tidak diragukan kebenarannya) dan isnad yang mutawwatir itu mencatatnya dengan jujur dan  cermat[2].
Secara etimologis, Al Quran berasal dari kata qara’a, yaqra’u, qira’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al jam’u) dan menghimpun huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur[3].Dikatakan Al Quran karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisaridari ilmu pengetahuan. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya atas tangungan kamilah mengumpulkannya ( dalam dadamu ) dan ( membuatmu pandai) membacanya.Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”.( Al Qiyamah 17-18).
Qur’anan dalam hal ini berarti juga qira’atahu(bacaannya/cara membacanya),jadi kata itu adalah masdar menurut wazan(tashrif)”fu’lan” dengan vocal “u” seperti “ghufran” dan “syukran”.Kita dapat mengatakan qara’tuhu,qur’an,qira’atan wa qur’anan artinya sama saja yakni maqru’ (apa yang di baca)atau nama Qur’an (bacaan)[4]
Secara Terminologi Al Quran menurut bebrapa ulama adalah
a.Ulama Ushul Fiqh
Kalamallah yang diturunkan kepada nabi Muhammad,dalam bahasa arabyang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawaatir,membacanya merupakan ibadah,tertulis dalam mushaf,dimulai dari surat al fatihahdan ditutup dngan surat an naas.
b.Abdul Wahab khalaf mendefinifisikan al quran sebagai sebagai firaman Allah melalui ruhul amin (jibril)kepada nabi Muhammad.dengan bahasa arab ,isinya dijamin kebenarannya,dan sebagai hujjah kerasulannya.undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta dipandang ibadah dalam membacanya,yang terhimpun dalam mushafyang di mulai dari surat al fatihah dan di akhiri dengan suray an naas yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawwatir.
c.Syeikh Muhammad Abduh mendeffinisikan al Quran sebagai kalam mulia yang diturunkan oleh Allah kepada nabi yang paling sempurna ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan.Ia merupakan sumber yang mulai yang esensinya tidak di mengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.
            Ketiga define tersebut sebenarnya saling melengkapi.Definisi yang pertama lebih focus pada subyek pembuat wahyu.Allah dan obyek penerima wahyu yakni Rosulullah,proses penyampaiannya kepada umat secara mutawwatir membacanya dikategorikan sebagai ibadah.Definisi kedua melengkapi penjelasan cara turunnya melalui malaikat jibril,penegasan tentang awal dan akhir surat,dan definisi ketiga berkaitan dengan isi dan criteria bagi orang yang ingin memahaminya.
B.Al Quran sebgai sumber pendidikan islam
            Kedudukan Al Quran daklam kehidupan seorang muslim sangat agung dan tinggi.Ia adalah sumber utama dalam semua segi kehidupannya,Al Quran  mengatur hubungan antara manusia dan Tuhannya,dirinya,alam sekitar,keluarga,tetangga,sesame muslim,masyarakat muslim.non muslim,satu Negara,dan antar Negara. Sehingga tidak ada satupun sisi kehidupan yang tidak dijelaskan oleh Al Quran
            Didalam Surat An Nahl ayat 89 Allah berfirman :
            “Dan kami turunkan kepadamu Al kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk bagi manusia serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
            Salah satu cirri khas pendidikan Islam adalah bahwa ia bersumber dari nilai-nilai Al Quran dan As Sunnah.Kedua sumber tersebut tidak dapat dipisahkan dari semua pembahasan dan implementasinya dalam kehidupan termasuk bidang pendidikan.
            Pendidikan Isalam adalah bagaimana melakukan proses pendidikan berdasarkan agama islam.Sedangkan kata pendidikan secara bahasa berasal dari bentukan kata “rabab” atau “rabb” yang berarti seorang penguasa,penghulu,yang ditaati dan seorang yang melakukan perbaikan.Sementara itu  kata pendidikan yang dimaksud adalah makna yang ketiga,yakni melakukan perbaikan[5].
            Sedangkan pendidikan menurut istilah yang dikemukakan oleh Laila binti Abdurrahman Al Juraibah mengutip pendapat Miqdad Yaljin dalam buku nya ‘”Ahdaf at tarbiyah al islamiyah wa ghayatuha” adalah menumbuhkan dan membentuk pribadi manusia yang selamat,muslim,sempurna,dalam berbagai sendi kehidupan,mulai sisi kesehatan,akal,akidah, ruh keyakinan,administarasi dan inovasi[6].
            Sudah seharusnya seorang muslim menjadiakan Al Quran sebagai sumber dalam melakukan proses pendidikan islam.Karena sebagai seorang muslim,Ia tidak bias dipisahkan dari misi utama diutusnya seorang rasul yang membacakan kepadanya ayat Al Quran sebagaiman yang tercantum didalam surat Al Baqarah ayat 151:
            “Sebagaimana(kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu)Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan dan mengajarkan kepdamu al kitab dan al hikmah serta mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui”.
            Sehingga salah satu output yang dihasilkan dalam pendidikan islam yakni ilmu,dimana Al Quran sangat menghormati ilmu dan pemiliknya dan telah menjadikan ilmu sebagai salah satu dari tiang fundamental utama dari upaya membangun kebesaran masyarakat-masyarakat manusia.
            Itulah sebabnya ada perbedaan yang mencolok antara masyarakat yang terdidikdengan pendidikan islam yang berpondasikan taujih robbani melalui al quran dan masyarakat yang tidak mengenal sama sekali panduan Al Quran.Lihatlah betapa masyarakat barat menganggap bahwa minu-minuman kerasa adalah kepuasan yang sangat diminati.Bermain casino,berjudi sambil mabuk-mabukan,menari,berdansa,hubungan bebas,membuka aurat,klub-klub malam,bermain music yang tidak ada batas moral dan etika.Dalam etika teknologi yang tinggi,mereka,mereka meledakkan bom nuklir dengan tidak memiliki standar moral yang mengakibatkan terbunuhnya jutaan manusia yang tidak berdosa.
C.Mengapa Al Quran menjadi sumber pendidikan Islam?
1.Al Quran sumber pendidikan Rasul dan sahabat
            Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan Al Quran telah mempengaruhi system pendidikan Rasulullah dan para sahabat.Lebi-lebih ketika Aisyah menegaskan bahwa akhlaq beliau adalah al quran.Allah menegaskan hal itu dalam firmannya:
            “Berkatalah orang-orang kafir:Mengapa Al Quran iyu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikian supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil”. (al Furqan:32)
            Dari ayat diatas kita dapat mengambil dua isyarat yang berhubungan dengan pendidikan,yaitu pengokohan hati dan pemantapan keimanan,serta sikap tartil dalm membaca Al Quran.
            Kehidupan Rasulullah baik dalam kondisi damai maupun perang,ketika di rumah maupun di luar rumah,atau berada di tengah kaumnya dibuktikan oleh perkataan Aisyah bahwa akhlaq beliau adalah Al Quran.Maka,doa-doa Beliau selalu diambil dari Al Quran.Dan tentang para sahabat mereka tidak diragukan lagi untuk mengamalkan sekaligus mempelajari Al Quran.Bahkan seorang sahabat pernah berkata:”Kami pada zaman Rasulullah tidak pernah melewati sebuah surat Al Quran pun sebelum kami menghapalkan dan mengamalkannya.Jadi,kami belajar dan beramal sekaligus”.Al Quran telah memberikan pengaruh pengaruh dan kesan yang mendalam hingga kaum muslimin lupa pada puisi.Padahal,sebelumnya mereka adalah kelompok masyarakat yang paling menyukai puisi,perdukunan,dongeng-dongeng Persia dan Arab sehingga melupakan ilmu himah.


2.Al Quran sumber yang edukatif
            Kelebihan Al Quran,diantaranya,terletak pada metode yang menakjubkan dan unik sehingga dalam konsep pendidikan yang terkandung didalamnya,Al Quran mampu menciptakan individuyang beriman dan senantiasa mengesakan Allah,serta mengimani hari akhir.Al Quran telah memberikan kepuasan penalaranyang sesuai dengan kesederhanaan dan fitrah manusia tanpa unsur paksaan dan di sisi lain disertai dengan pengutamaan afeksi dan emosi manusiawi.Dengan demikian,Al Quran mengetuk akal dan hati sekaligus.Al Quran mengawali konsep pendidikannya dari hal yang sifatnya konkret,seperti hujan,angin,tumbuh-tumbuhan,Guntur atau kilat menuju hal yang abstrak,seperti keberadaan,kekuasaan,dan berbagai sifat kesempurnaan Allah,penyajian tersebut kadang-kadang melalui metode bertanya,baik untuk tujuan mengkritik maupun mengingatkan atau menggunakan untuk menyukakan,menyebutkan keindahan atau hal lain yang dapat menggali emosi Robbaniah dalam diri seseorang .Dengan demikian,metode tersebut sangat sesuai dengan apa yang dewasa ini digembar-gemborkan para psikolog dalam menggali unsure afeksi manusia.Lewat metode Qurani,ketika kita berulang-ulang memberikan suatu materi,kita akan merasakan bahwa metode tersebut sangat mempengaruhiemosi yang dilengkapi pengalamn perilaku sehingga dalam diri seorang tumbuhlah kesiapan emosi yang jika sewaktu-waktu materi yang bersangkutan disentuh,emosi tersebut akan muncul kembali.Itulah pengalaman emosionalyang hanya kita peroleh dari metode Qurani.Jika perilaku ideal tersebut tersebut dilengkapi dengan sifat afeksi,artinya pendidikan telah berperan dalam penyatuan jiwa dan menggali potensi seorang manusia sehingga menjadi manusia yang berkualitas.
            Lebih jelasnya lagi,metode pendidikan Qurani itu dapat kita analisis dari surat Ar Rahman.Dalam surat tersebut,Allah yang Maha Agung menuturkan berbagai nikmat dan bukti-bukti kekuasaanNya.Dia mulai menuturkan eksistensi manusia,kekuasaanNya dalam mendidik manusia,seperti matahari,bulan,bintang,pepohonan,buah-buahan,langit,dan bumi.Pada setiap ayat atau bisa juga pada sejumlah ayat,Allah membuktikan anugrahNya itu dengan menempatkan manusia di hadapan manusia di hadapan benda nyata,pengalaman,suara hati,dan jiwa.Maka,setiap manusia tidak akan pernahmampu mengingkari apa yang telah dirasakan dan diterima oleh akal dan hatinya.Hal itu,jelas-jelas termaktub di dalam ayat “Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?”( Ar Rahman:13).Pertanyaan tersebut berlanjut pada 30 pertanyaan lain yang senada tetapi memberikan pengaruh emosional berlainan sesuai dengan ayat sebelumnya.
            Itulah gambaran betapa Al Quran itu memberikan metode pendidikan yang edukatif.Dan otomatis itupun berpengaru pada kurikulum serta metode pendidikan Islam.Dengan demikian,penurunan Al Quran yang dimulai dengan ayat-ayat yang mengandung konsep pendidikan yang dapat menunjukkan bahwa tujuan Al Quran yang tersarat dengan kegiatan meneliti,membaca,mempelajari,dan observasi ilmiah terhadap manusia sejak manusia masih dalam rahim ibu sebagaimana firman Allah berikut ini:
            “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,Bacalah,dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya”.(Al Alaq : 1-5 )
            Dalam surat As Syams,dengan berulang-ulang Allah menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat dididik,disucikan,dan ditinggikan.
3.Al Quran membangun peradaban manusia
            Dalam sejarah pendidikan manusia,ketika para pelaku dan pemerhati pendidikan tidak menjadikan Al Quran sebagai sumber pendidikan islam,kemajuan yang dihasilkan tidak signifikandan cenderung stagnan.Tetapi di saat kaum muslimin menjadikan Al Quran sebagai sumber utama pendidikan islam,maka mereka dengan cepat telah mampu membangun peradaban manusia yang bukan hanya orang islam saja yang menikmatinya,tetapi orang non muslim pun bangga dengan keberhasilan kaum muslimin dalam membangun peradaban dunia.
            John Esposito sebagai pemerhati dunia islam menyebutkan tentang awal kemerosotan kaum muslimin dalam dunia pendidikan.Abad 18,19,dan 20 sebagai awal bergesernya dunia islam ke bidang politik dan sosial dengan mengabaikan pendidikan islamdan member peluang pada gagasan dan missioner eksternal yang menjadikan pendidikan agama dalam arti sempit.
            Keragaman pandangan dunia dan interprestasi atas prinsip-prinsip Al Quran  tentang pendidikan berakibat ditekankanya bentuk dari pada hakikat pendidikan kaum muslimin.Akibat tekanan cultural dan politik pendidikan islam hanya terbatas pada:
-          Orang-orang tertentu
-          Materi terbatas pada subyek agama dengan aturan sosial[7]  
Menjadikan Al Quran sebagai sumber utama dalam pendidikan islam merupakan langkah yang mutlak, jikaa kaum muslimin ingin maju dan mendapat hidayah dari Allah. Sebab jika tidak mereka tidak akan pernah mengulang sejarah keemasan islam seperti sebelum-sebelumnya,dan akan terus menjadi bangsa pengekor yang tidak akan pernah menang.
Jadi Al Quran sebagai wahyu ilahi yang diturunkan kepada nabi Muhammad mengandung manhaj yang lurus dan jalan yang benar bagi manusia. Al Quran datang dengan membawa solusi yang menyeluruh atas semua permasalahan dan problematika yang dihadapi manusia,baik dalam lingkup indidvidu maupun masyarakat.Para sahabat telah mendapat didikan dengan manhaj ini dan akhirnya mereka telah merubah wajah sejarah.Sementara itu Al Quran tidak hanya berhasil merubah sejarah pada zaman sahabat saja,tetapi ia sebagai solusi untuk setiap zaman dan masa,setiap tempat dan lingkungan,dan semua hal yang dibutuhkan oleh masyarakat[8] .Allah ta’ala berfirman:
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Quran”. (Al An’am:38)
Hal tersebut senada dengan firmanNya berikut ini:
“Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab(Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.(An Nahl:89)
Lalu bagaimana Al Quran memberikan bimbingan di bidang pendidikan dalam kaitannya dengan kemajuan teknologi? Masyarakat sekarang ini telah mencapai kemajuan dalam penggunaan teknologi dan inovasi modern.Di bidang ini kaum muslimin dalam keadaan jauh tertinggal di belakan posisi barat hingga sangat lebar kesenjangannya.Padahal sebenarnya dahulu kaum muslimin adalah para pakar ilmu dan pengetahuan sebagaimana agama mereka mendorong hal itu.Al Quran telah menegaskan tentang ilmu dan ahli ilmu di banyak ayat,diantaranya:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan(yang berhak disembah)melainkan Dia yang menegakkan keadilan,para malaikat dan orang-orang yang beriman”.(Al Imran:18)
Begitu pula di ayat yang lain:
“Kami telah di beri pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.(An Naml:42)
Oleh karena itu,kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kesenjangan tersebut,dan kalau perlu kita menjadikan kondisi tersebut menjadi berbalik,artinya kaum musliminlah yang unggul.Sehingga mereka menjadi lebih maju dan memimpin medan ini.Dan bagi para penanggung jawab pengelolaan pendidikan dan pengajaran serta perencanaan metodenya agar menggunakan ilmu,rahasia dan teka-tekinya sehingga dapat terungkap fenomena-fenomena alam. 
Kedua : As Sunnah
A.Definisi As Sunnah 
Syariat yang telah sempurna ini adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makna umum. Adapun sunnah itu sendiri, terbagi menjadi empat definisi:
Pertama
Sesungguhnya, segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran –pen) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia merupakan sebuah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh definisi ini adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku.” (H.R. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])
Kedua
Sunnah yang bermakna “al-hadits”. Hal tersebut jika digandengkan dengan “Al-Kitab”. Di antara contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
 “Wahai sekalian manusia, sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian kalian tidak akan tersesat selamanya: (yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua hal bagi kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya setelah berpegang teguh dengan kedua hal tersebut: (yaitu) Kitabullah dan sunnahku.”
Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (I/93).
Di antara bentuk kata “sunnah” yang bermakna “al-hadits” adalah perkataan sebagian ulama dalam menyebutkan beberapa permasalahan, “Dan ini adalah sebuah permasalahan yang berdasarkan dalil Al-Kitab, as-sunnah, dan ijma’ para ulama.”
Ketiga
Sunnah pun dapat didefinisikan sebagai lawan dari bid’ah. Di antara contoh penggunaannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,
 “Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku –pen), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat!” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud [4607] -–lafal hadits ini adalah milik beliau–, dikeluarkan pula oleh At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44]; At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih”)
Di antara contoh penerapan istilah “sunnah” yang bermakna “lawan dari bid’ah” adalah sebagian ulama hadits zaman dahulu yang menyebut buku-buku karya mereka dalam bidang akidah dengan nama “As-Sunnah”, semisal As-Sunnah karya Muhammad bin Nashir Al-Marwazii, As-Sunnah karya Ibnu Abii ‘Aashim, As-Sunnah karya Al-Laalikaa`i, dan selainnya. Dalam kitab Sunan karya Abu Daud pun terdapat bab berjudul “As-Sunnah” yang memuat banyak hadits tentang akidah.
Keempat
Sunnah pun dapat bermakna “mandub” dan “mustahab”, yaitu segala sesuatu yang diperintahkan dalam bentuk anjuran, bukan dalam bentuk pewajiban. Definisi ini digunakan oleh para ahli fikih. Di antara contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
 “Seandainya bukan karena takut memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk melakukan siwak setiap hendak melaksanakan shalat.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [887] dan Muslim [252])
Sesungguhnya perintah untuk bersiwak berada pada derajat anjuran, dan hal tersebut semata-mata karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan memberatkan umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menetapkannya sebagai sebuah kewajiban.
B.As Sunnah teladan Pendidikan islam
            Setelah Al Quran pendidikan islam menjadikan As Sunnah sebagai dasar dan sumber kurikulumnya.Pada hakikatnya,keberadaan sunnah ditunjukkan untuk mewujudkan dua sasaran,yaitu:
1.      Menjelaskan apa yang terdapat di dalam Al Quran
Tujuan ini di Isyaratkan Allah dalam firmannya
“…Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran,agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya”.(An Nahl:44)
2.      Menjelaskan syariat dan pola perilaku sebagaimana ditegaskan firman Allah:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seseorang Rasul di antara mereka,menyucikan mereka,dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah(As Sunnah)……(Al Jumuah:2)
Ayat tersebut merujuk pada keberadaan sunnah sebagiamana di tafsirkan oleh Imam Syafi’I dan jalan ilmiah untuk mewujudkan ajaran-ajaran Al Quran.Tujuan ini ditegaskan oleh sabda nabi:
“Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al Kitab dan sesuatu yang seperti Al kitab”.
Dalam dunia pendidikan,As Sunnah memiliki dua manfaat pokok.Manfaat pertama,As Sunnah mampu menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan islam sesuai dengan konsep Al Quran.Kedua,As Sunnah dapat menjadi contoh yang tepatdalam penentuan metode pendidikan.Misalnya,kita dapat menjadikan kehidupan Rosulullah dengan para Sahabat ataupun anak-anak sebagai sarana penanaman keimanan.
Rosulullah adalah sosok pendidik yang agung dan pemilik metode pendidikan yang unik,Beliau sangat memperhatikan manusia sesuai dengan kebutuhan,karakteristik,dan kemampuna akalnya,terutama jika beliau berbicara dengan anak-anak.Jenis bakat dan kesiapan pun merupakan pertimbangan beliau dalam mendidik manusia.Kepada wanita,Beliau memahami fitrahnya sebagai wanita,kepada laki-laki,beliau memahami fitrahnya sebagai laki-laki,kepada orang dewasa,Beliau memahami identitasnya sebagai manusia dewasa,dan kepada anak-anak,beliau memahami karakternya sebagai anak-anak.Beliau sangat memahami kondisi naluriah setiap orang sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita,baik material maupun spiritual.Beliau senantiasa mengajak setiap orang untuk mendekati Allah dan syariatNya sehingga terpeliharalah fitrah manusia melalui pembinaan diri setahap demi setahap,penyatuan kecendrungan hati,dan pengarahan potensi menuju derajat yang lebih tinggi.Lewat cara seperti itulah beliau membawa masyarakat pada kebangkitan dan ketinggian derajat.
      Sebagian ulama islam telah menemukan tujuan-tujuan pendidikan kenabian tersebut,yang kemudian mereka klasifikasikan menjadi kelompok hadits yang memiliki tujuan pendidikan tertentu,seperti yang terdapat dalam At Tharghib wat Tarhib karya ahli hadits Abdul ‘Azhim al Mundziri (581-656).Materi buku tersebut meliputi hadits-hadits pembinaan diriyang mendorong manusia untuk mencintai amal kebajikan dan menjauhi keburukan.Buku tersebut terdiri atas beberapa jilid yang materinya meliputi berbagai masalah kehidupan material,spiritual,harta,jasmaniah,individual,social,ritual,dan pemikiran.
      Selain itu,ada juga ulama yang mengklasifikasikan hadits dari kehidupan praktis Rosulullah.yang kemudian juga disusun menjadi buku seperti Tuhfah al-maudud fi Ahkam al Maulud-nya Ibnu Qayyim al Jauziyah dan Al Adab al Mufrad nya Imam Bukhari.Buku-buku tersebut sarat dengan konsepsi Nabi dalam mendidik dan memperlakukan anak-anak dan anak yatim,Seperti mengungkapkan rasa sayang,mencium,bersenda gurau,dan lain-lain.Buku tiu pun dilengkapi dengan konsep yang berhubungan dengan etika bermasyarakat.
      Di dalam Adab al Mufrad,materi dilengkapi dengan bahasan tentang sahabat dan tabi’in.Penyusunan buku itupun tidak berpegang teguh pada syarat tertentu seperti yang dipegang pengarangnya ketika menyusun Al jami’ al Shahih.
Ketiga: Jalan Hidup Salafus Sholih
Mereka merupakan sebaik-baik umat dalam mengikuti sunnah Rosul, mereka adalah panutan, yang kita ambil ilmu dan pelajaran hidupnya dan kita mengambil dari mereka berbagai cara dan langkah dalam mendidik anak-anak mereka di atas keimanan kepada Alloh dan RosulNya serta bagaimana kondisi anak-anak mereka. Maka hal itu menjadi acuan dan landasan kita dalam mendidik anak-anak sehingga mereka mengetahui secara sempurna bagaimana kehidupan para salaf dan cara mereka dalam mendidik anak-anak mereka.
Keempat: Ilmu dan Ulama
Di antara sumber materi pendidikan adalah ilmu dan ulama sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama salaf tentang keutamaan ilmu.
Mu’adz bin Jabal berkata, “Belajarlah sebab mencari ilmu adalah suatu kebaikan dan bagian dari ibadah serta menda’wahkan kepada yang lain merupakan bagian taqorrub. Ilmu merupakan menara jalan para calon penghuni surga, teman di kala kesepian, pendamping dalam pengasingan, teman bersanding di kala berduaan, petunjuk pada saat bahagia dan gundah, dan penjaga ketika sepi serta senjata ampuh untuk melawan musuh. Alloh mengangkat kaum dengan ilmu tersebut hingga menjadi panutan dan perbuatan mereka diikuti. Ilmu adalah sumber kehidupan hati dari kebodohan, lampu penerang bagi jalan kehidupan dari kegelapan, dan sumber kekuatan tubuh dari kelemahan, serta ilmu sebagai penghantar seorang hamba sampai pintu gerbang kemuliaan di dunia akhirat. Berpikir tentang ilmu sama dengan puasa mudzakaroh, sama dengan qiyamul lail, maka ilmu sebagai sarana untuk menyambung silaturrahmi serta untuk mengenal halal dan harom.”
Imam Malik berkata, “Tidak boleh mengambil ilmu dari 4 orang dan boleh dari selain mereka:
  • Tidak boleh mengambil ilmu dari orang bodoh dan hilang akalnya
  • Dari ahli bid’ah yang mengajak pada kebid’ahan
  • Orang berdusta dalam meriwayatkan ucapan manusia
  • Dan tidak boleh mengambil ilmu dari tokoh yang dianggap baik dan sholih namun tidak bisa memilah antara hadits yang dia sampaikan

Malik bin Anas berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambilnya.”
Sedangkan para ulama adalah ahli waris para Nabi. Maka hendaklah para pendidik membiasakan bertanya tentang hukum Alloh, dan membiasakan anak-anaknya bermulazamah, menghargai dan menghormati para ulama, bersikap rendah hati dan sopan kepada mereka, serta bersegera memberi bantuan dan pelayanan pada mereka.
Kelima: Bersanding dengan Orang-orang Sholih

Ini adalah sumber penting dalam pendidikan islam anak-anak kita. Pendidik utama, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar pandai-pandai memilih teman bagi anak-anak kita.
“Seseorang tergantung pada agama temannya, maka hendaklah memeperhatikan diantara kalian siapa yang dijadikan teman.” (riwayat Abu Dawud 4833, At Tirmidzi 2379, dikeluarkan oleh Imam Ahmad, 2/303, 334)
Teman yang baik adalah nikmat yang agung, sebab ia akan selalu mengingatkanmu kepada Alloh ketika kamu lupa, membantumu ketika sedang berdzikir, menolongmu ketika engkau butuh, memberimu ketika kau meminta.
Kesimpulan
Wahai sang pendidik yang beriman, sesungguhnya umat kita telah sampai pada kondisi yang sangat memilukan akibat tradisi meniru dan mengekor orang bejat dan kafir. Mereka mencekoki kita dengan berbagai kotoran dan racun, baik dari sisi aqidah, pemikiran,  dan budaya. Sementara mereka juga menyalakan api peperangan dan permusuhan serta kebencian sehingga mereka berusaha mengacak-acak persatuan kita, memecah belah kerukunan kita, dan mereka menebarkan di bumi islam yang tercinta berbagai macam racun busuk dan pemikiran yang menghancurkan dan merusak.
Lalu bagaimana sikap kita terhadap banyaknya teori yang bermunculan sekarang ini? Sadar atau tidak, kadang bahkan seringkali teori-teori itu akan mempengaruhi pola hidup kita, pola pikir kita, dalam hal ini adalah dalam konteks metode dan seluk-beluk mendidik anak. Ujung-ujungnya, teori-teori yang berkembang bisa menjadi sumber dan pedoman pendidikan anak-anak masyarakat kita.
Dari teori-teori “mutaakhir” asal barat maupun “lokal” yang muncul sekarang ini, boleh-lah kemungkinannya saya bagi ke dalam 3 bagian:
1. Teori-teori pendidikan anak yang bersesuaian dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih
2. Teori-teori pendidikan anak yang sebagiannya bersesuaian dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih, dan sebagiannya bertentangan dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih
3. Teori-teori pendidikan anak yang “jelas-jelas” bertentangan dengan prinsip dan hukum islam sesuai manhaj salafus sholih
Lepas dari pembagian tersebut di atas, kita bertanya, adakah atau mungkinkah teori2 tersebut semuanya bersesuaian dengan manhaj salaf?Atau adakah dan mungkinkah sebagian teori tersebut ada yang bersesuaian dengan manhaj salaf?  Atau malah, kebanyakan teori tersebut bertentangan dengan manhaj salaf
Tentu saya tidak bisa menghakimi dan menghukumi satu persatunya, mengingat perlu disiplin ilmu din yang komplek. Tapi dengan berbekal ilmu dan tak pernah lelah bertanya pada ulama, kita sebaiknya teliti dan berusaha mengacu pada kaidah manhaj salaf, kita bisa membandingkan, menimbang, dan mencocokkan, apakah teori yang dicetuskan sekelompok pakar “barat” maupun “lokal” tersebut ada sandarannya dalam din atau tidak.
Berkaitan dengan merebaknya teori-teori ini, seyogyanya yang pertama menjadi fokus perhatian kita sebagai pelaku pendidikan berbasis “islam”, yang pertama adalah bertanya pada “ulama” (Fas’aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun), bagaimana hukum mempelajari teori-tori “mereka”, bagaimana hukum mengadopsi sebagian teori yang kita anggap bersesuaian dengan manhaj yang haq? Atau bagaimana sikap yang utama dalam permasalahan ini, mengambil sebagian dengan meyaringnya (seandainya kita punya kemampuan untuk menyaring), ataukah malah sebaiknya kita meninggalkannya? Perlukah kita mempelajari dan mengadopsi teori-teori “mereka”? Atau kalaupun dianggap “perlu”, seberapa perlu kita mengadopsi atau sekedar “membaca” sebagai “wacana” untuk pengembangan metode pendidikan kita? Tentu ini bukan hal yang sepele, karena berkaitan dengan halal dan haram. Berkaitan dengan sikap wala’ dan baro’. Dan juga sikap kehati-hatian seorang muslim.
Rasanya tak ingin, jika kita kutip sedikit saja teori mereka, lantas membuat kita ikut membesarkan nama mereka, membuat eksistensi mereka diakui masyarakat bahkan dunia. Yang akhirnya menjadikan mereka menjadi panutan manusia. Jadi apa umat islam ini kelak?
Semua kembali pada individu dan “prinsip hidup” masing-masing (baca: manhaj). Seandainya, sekali kita menerapkan teori mereka, membuat kita kagum pada keberhasilan mereka, kemudian membuat kita mencari teori-teori yang lainnya, dan semakin lama semakin banyak memakai teori mereka, bahkan pandangan-pemandangan kritis dan tajam mereka lama-lama menjadi “KUHP” (Kitab dan Undang-undang serta Hukum Pendidikan), yang ujung-ujungnya mencerminkan sikap loyal (wala’) pada mereka, paham mereka, eksistensi mereka, maka ini adalah suatu musibah aqidah umat. Maka, menahan diri dari “berdekat-dekatan” dengan mereka adalah senjata ampuh untuk menyelamtkan diri dari bencana dunia dan akhirat. Wallohu a’lam.


















Daftar Rujukan
Al Quran
Abdurahman An Nahlawi,”Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat,GIP
Hasyim ibn As Sayid Ali al Ahdal,”Al Bina at Tarbawi lil Mujtama’al Muslim al Fa’al”,Rabhithah Alam Islami,Mekah,2009
Ibnu Mandzhur,”Lisanul Arab”
John Esposito,”Ensiklopedia Oxford,Dunia Islam Modern”,Mizan,Bandung
Laila binti Abdurahman Al Juraibah,”Kaifa Turabbi Waladaka”
Sa’id ibn sa’id Al Magribi,”Bagaimana Seharusnya Mendidik Anak”,Darul Haq
Subhi as Shalih,Dr.”Mabahis fi Ulumil Quran”,Darul Ilm lil Malayin,Beirut,Libanon
Muhaimin,Drs,MA,”Dimensi-dimensi Studi Islam”,Karya Abditama,Surabaya
Manna’Khalil al Qatan,”Mabahis fi Ulumil Quran


[1] Subhi as shalih,Dr.”Mabahis fi ulumil quran” darul ilm lil malayin,Beirut,Libanon




[2] Ibid
[3] Muhaimin,Drs,MA “Dimensi-dimensi Studi Islam” Karya Abditama,Surabaya
[4] Mana’ khalil al Qattan “mabahits fi ulumul quran
[5] Lisanul Al Arab,Ibnu Manzdhur, 1/400-401,kata rabab Kamus Al Muhith,Al Fairuzabadi hal 111
[6] Kaifa Turabbi Waladaka,Laila binti Abdurahman Al Juraibah
[7] Ensiklopedia Oxford,Dunia Islam Modern,John Esposito,hal 264,jilid 4, Mizan,Bandung,2011
[8] Al Bina At TArbawi lil Mujtama’ al Muslim al Fa’al,Dr.Hasyim bin As Sayid Ali al Ahdal,hal 19-20,Rabithah Alam Islami,Mekah,2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar